Bermitra dengan Dunia Maya

Dulu zamannya gw sekolah SD, ditanamkan kuat2 bahwa yang namanya guru itu selayaknya orangtua di sekolah, orang yang harus digugu dan ditiru. Didengarkan nasihatnya dan dipatuhi perintahnya. Wajar sih, soalnya berdasarkan cerita, zamannya ayah gw dulu yang namanya orang tua dan guru (apalagi guru ngaji) adalah orang yang ditakuti dan dikeramatkan kata-katanya. Ngelawan orang tua, siap-siap nemenin Malin Kundang jadi batu karang. Ngebantah kata-kata guru di sekolah, alamat tinggal kelas. Males-malesan ketika ngaji, dapet predikat dosa karena ga mau belajar agama, itu juga belom ditambah selepetan rotan yang setia menemani para guru ngaji zaman dulu. Pokoknya angker deh! Hehehehe...

Tapi itu kan dulu, masih relevan gak sih sama kondisi zaman sekarang? Banjirnya arus informasi yang diterima setiap anak melalui berbagai media dewasa ini, baik cetak atau elektronik, membuat anak-anak zaman sekarang menjadi kritis. Sifat kritis yang identik dengan kecerdasan, tentunya membuat setiap anak yang banyak tanya dan banyak ingin tahu akan selalu haus akan informasi dan pengetahuan. Jelas sebuah dampak positif dari media yang menyajikan beragam informasi. Tapi disamping itu hal ini menyebabkan para guru gampang di skak mat sama murid-muridnya.

Gimana nggak, lah sumber informasi para murid bukan cuma sekolahan aja. Bukan nggak mungkin setiap guru menjelaskan justru dibantah sama muridnya, alasannya: “Waktu saya tanya Om Gugel dan Tante WIki di internet kemarin nggak kayak gitu deh, Pak.” Waduh! Selain itu kalo guru masih tetap mempertahankan cara mengajar yang konvensional seperti menjelaskan, menyalin materi dan menyuruh murid mengerjakan soal, pastinya membuat murid cepat bosan dan nggak bisa menyerap pelajaran dengan baik. Kalo sudah begini yang susah kan gurunya juga. Hmm... Pusing ya?

Solusi paling cerdas untuk mengantisipasi masalah ini tentu aja dengan melibatkan teknologi juga dalam kegiatan belajar mengajar. Seperti kata pepatah:
"Lawanlah mata dengan mata."
[entah itu pepatah dari mana :P]

Gw masih ingat pas SMA dulu ada seorang guru bahasa Indonesia di sekolah yang punya metode unik dalam mengajar. Sayangnya dia nggak mengajar di kelas gw. Beliau memanfaatkan internet yang waktu itu masih belum banyak digunakan seperti sekarang. Contohnya, ketika akan mengajarkan tentang puisi dan cerpen beliau menginstruksikan murid-muridnya untuk membuat puisi dan cerpen, dan mempostingnya di website cybersastra. Hanya yang tulisannya dimuat yang bisa mendapat nilai untuk ulangan di bab itu.

Ketatnya seleksi puisi dan cerpen yang bisa di publish di web cybersastra itu membuat tidak semua tulisan yang dikirimkan murid-murid bisa langsung di publish. Karenanya para murid ‘dipaksa’ untuk lebih produktif menulis, dan lebih berkualitas dalam menciptakan puisi maupun cerpen. Secara tidak sadar juga para murid jadi belajar dengan mengamati tulisan-tulisan yang sudah masuk ke cybersastra, supaya tahu “Puisi dan cerpen seperti apa sih yang bisa di publish?” Secara tidak langsung mereka belajar dan mendalami tentang puisi dan cerpen tanpa perlu dijelaskan panjang lebar tentang kaidah-kaidah menulis yang membosankan.

Dan ketika para murid dipuncak rasa penasaran, dan mungkin putus asa, kenapa puisi mereka nggak masuk2 juga ke cybersastra, justru mereka meminta dijelaskan gimana cara menulis puisi yang benar. Walhasil, guru tersebut berhasil memancing rasa ingin tahu murid-muridnya tentang topik bahasan kali itu. Dan mengajak mereka untuk sama-sama belajar tanpa harus membawa cemeti untuk memaksa murid-muridnya belajar [ini guru atau pawang sirkus ya? :P].

Gw sih bukan guru, dan ngga ada bakat sedikitpun untuk jadi guru, tapi gw sangat appreciate sama para guru yang selalu mau belajar dan meng-explore caranya mengajar. Apalagi kalo ngga ragu pake teknologi informasi macem internet. Soalnya gw selalu beranggapan kalo batas antara maksiat dan maslahat di internet itu cuma dibatasi sama dua klik doang. Kalo ngga dipake buat kebaikan, pasti ada aja yang make untuk keburukan.

Makanya Sobat, kalo kamu guru ataupun calon guru, jangan mau kalah ya sama murid-murid zaman sekarang yang udah melek teknologi. Justru dengan keinginan untuk terus belajar membuktikan kalo kamu seorang pembelajar sejati, yang pastinya sangat pantas untuk jadi teladan buat para murid-murid. Itu kan inti dari menjadi guru: digugu dan ditiru? :)

Previous
Next Post »

1 comments:

Click here for comments
raeArani
admin
17 Desember, 2009 05:26 ×

ho... nyoba peruntungan di akademih bloger mikrosop yak.

sukses yak!

Congrats bro raeArani you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar
Thanks for your comment