Film dan Industrinya

Ehm... Lagi mau agak serius nih :)

Sobat Muda, kamu udah tau film Mr. Bean Kesurupan Depe yang beberapa waktu yang lalu jadi kontroversi? 

Buat yang belum tau, briefly berita tentang film ini jadi rame karena mencatut nama Mr. Bean di judul filmnya, tapi pada kenyataannya Mr. Bean yang ada di film bukannya Rowan Atkinson si pemeran asli Mr. Bean, melainkan aktor Inggris yang emang mirip banget sama Mr. Bean.

YLKI bilang kalo penonton Indonesia berhak protes dan menuntut kerena telah dibohongi. Tapi KK Dheraj, produser film tersebut bergeming, dengan dalih dari awal ia menyebutkan Mr. Bean dari Inggris, bukan Rowan Atkinson.

Terlepas dari konyol-konyolan kontroversi mengenai bokis apa nggak si KK Dheraj, film ini menambah panjang daftar film-film mengecewakan yang beredar di bioskop-bioskop Indonesia, setelah sebelumnya film komedi seks, atau horor seks (atau paket combo horor komedi seks) bertebaran. Dan saya rasa kita semua sepakat, sebagai penonton kita udah jenuh dengan film-film semacam itu.

Nah, muncul pertanyaan kalo emang film-film seperti itu mulai menjemukan, kenapa bioskop-bioskop di Indonesia masih tetap menayangkan?

Pertanyaan ini terjawab ketika sabtu minggu lalu saya ngobrol sama mas @salmanaristo

Oya, sebelumnya... Jadi sudah sejak sebulan lalu saya ikut workshop penulisan skenario film yang diadakan @_PlotPoint, sebuah institusi yang concern mengadakan pelatihan kepenulisan kreatif. Apa pun. Nggak terbatas nulis skenario aja, tapi juga cerpen, novel, bahkan komik.

Kebetulan Mas Aris, begitu dia biasa disapa, yang jadi mentor kelas skenario. Kalo ada yang belum kenal Mas Aris pasti kenal sama karya-karyanya. Catatan Akhir Sekolah, Hari Untuk Amanda, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Garuda di Dadaku 1 dan 2, dan Sang Penari, adalah contoh beberapa karyanya. Wajar sih kalo nggak terlalu dikenal, penulis skenario umumnya emang kalah bersinar dibanding sutradara atau produser. Padahal bareng mereka berdua penulis skenario membentuk gugus kerja yang biasa disebut triangle system dalam pra produksi sebuah film :)

Eniwei, balik lagi ke soal film-film gak mutu, ngobrol sama Mas Aris yang jelas udah lama berkecimpung di industri film bikin saya punya perspektif baru soal industri ini.

Ternyata salah satu akar masalah
kenapa film-film sampah masih banyak beredar di bioskop kita adalah karena perusahaan penyedia layar untuk memutarkan film cuma 21, dengan kurang lebih 400 layar, ditambah sama Blitzmegaplex yang nggak seberapa banyaknya. Sedangkan bioskop-bioskop kecil yang dulu sempat menjamur di era '70-'80an berguguran sudah sejak lama sekali.

Dominasi 21 sebagai pemutar film ternyata berefek bumerang. Iya, memang semua penonton jadinya memadati 400an layar yang mereka punya, tapi itu berarti juga semua produsen film berebut minta filmnya diputer disana.

Kalo kita analogikan sebagai toko, bioskop-bioskop ini nggak bisa dengan mudah menolak film-film yang ada untuk minta diputarkan. Karena mereka harus menjaga hubungan baik dengan semua produser dan sineas, tidak terkecuali pembuat film murahan itu.

Pak Harris Lesmana, pemilik 21, pernah bercerita ke Mas Aris, kalo sebetulnya dia pengen banget memenuhi bioskopnya dengan film-film bermutu dan berkelas. Tapi apa daya, 60% film-film Indonesia masih diisi oleh film-film kacangan itu. Produser-produser bermutu dan visioner kaya Mbak Mira Lesmana dan Mbak Shanty Hermayn belum banyak, dan umumnya mereka cuma buat satu film setahun. Dan sisa jatah slot film Indonesia di bioskop ini terpaksa diisi oleh film-film sampah. Sekali lagi karena dua hal, m
enjaga hubungan baik dengan pembuat film, dan mengisi slot jatah film Indonesia.

Dua hal ini berkaitan. Kenapa penting menjaga hubungan baik? Karena kalo sampe mereka ngambek dan mogok bikin film industri ini akan gak jalan.

Apa yang terjadi kalo sebuah industri itu mati? Banyak pengangguran. Rasanya mati surinya perfilman Indonesia di dekade '90-an cukup jadi contoh ya. Seperti saya bilang sebelumnya kalo banyak banget bioskop kecil, terutama yang kelas menengah dan bawah, yang tutup kala itu. Bayangkan kalo satu bioskop aja bisa menyerap 30 sampai 50 orang untuk bekerja, mulai jadi manajer bioskop sampe penjaga tiket masuk, dan kalo di seluruh Indonesia ada 500 bioskop kecil seperti itu. Itung berapa banyak tenaga kerja yang terserap!

Oke, kamu mungkin berpikir kalo itu tetep jumlah yang kecil kalo dibandingin angka usia kerja produktif Indonesia, tapi itu tetap angka yang besar kalo sejumlah itu jadi pengangguran. Ya kan?

Pada intinya mematikan sebuah industri adalah salah. Kebetulan saya sarjana Agroindustri, dan walaupun prestasi akademis di kuliah gak bisa dibanggakan, mindset yang terbentuk di kepala saya bikin saya memahami arti pentingnya industri di sebuah negara. Menurut Prof. Andi Hakim Nasution dalam buku Pengantar Ilmu Pertanian, ciri sebuah negara menjadi negara maju jika ia berbasis industri, tidak lagi berbasis pertanian. Nah, Indonesia sebagai negara berkembang yang juga notabene negara agraris harusnya bisa naik kelas menjadi negara industri dengan tetap memberdayakan bidang pertanian. Agroindustri lah solusinya. Yeaahh!!

Ehm, jadi ngelantur. Malah narsis jurusan... xP

Eniwei untuk masalah industri film ini ada beberapa solusi:

  1. Perbanyak perusahaan bioskop untuk memutar film, jangan cuma 21. Jadi bioskop pun bisa menjalankan fungsi kurasi tanpa harus bikin produser sakit ati ditolak. Caranya ya dengan menganjurkan film-film kacangan diputar di bioskop kelas bawah aja. Toh  intinya
  2. Perbanyak karya film berkualitas, sejauh ini sih mulai menggeliat ya. Udah mulai banyak film berkualitas yang tayang di bioskop. Tapi pada kenyataannya belum cukup tuh, baru 40% dari total film-film Indonesia yang muncul kalo kata Pak Harris Lesmana
  3. Pemerintah perlu campur tangan, dengan cara mensubsidi bioskop untuk menutup biaya yang mungkin hilang kalo film-film sampah tersebut ditarik dari peredaran. Fungsi ini yang sering bikin sineas tanah air geregetan sama pemerintah. Soalnya sejauh ini gak ada geraknya, padahal mereka kita gaji (lewat pajak) untuk menguraikan masalah seperti ini. Soalnya mengandalkan investasi dari luar juga nggak mungkin, karena film adalah salah satu industri yang nggak bisa dimasuki investor, kalo nggak salah karena industrinya belum establish dan pertumbuhannya masih minus atau gimana gitu, saya lupa persisnya. Denger kabar kalo Bu Marie Elka Pangestu dengan Kementrian Ekonomi Kreatifnya lagi berusaha mengubahnya. Kita doain aja yaa :) 
  4. Terakhir, ini yang paling mudah dan bisa kita mulai dari diri sendiri... Jangan nonton film-film sampah macem gitu. Kenapa bisa ada produk film semacam horor seks? Ya karena ada konsumennya. Ada yang nonton. Kalo kita tinggalin, lama-lama juga gak akan diproduksi film kaya gitu. Lah orang gak menguntungkan kok. Dan pemilik bioskop seperti Pak Harris Lesmana bisa dengan enteng menolak film seperti itu diputar di bioskopnya.
Eniwei... kenapa saya concern banget sama industri film ini, karena udah sejak 2008 saya memutuskan untuk fokus berkarya di bidang audio-visual. Murtad gitu ya dari dunia pertanian, ngehehehe, nanti kapan-kapan saya post deh cerita sebab musababnya.

Yang pasti sih di industri ini dokumenter itu cinta pertama saya, dan film layar lebar itu, let's say, yang lagi saya PDKT-in, hihihihi..

Selamat berakhir pekan, Sobat Muda :)
Previous
Next Post »

2 comments

Click here for comments
01 Juli, 2012 09:24 ×

nais inpo bang.itu yang nomor 1 taip intinya ... kayanya kepotong yak :D

Reply
avatar
rae arani
admin
02 Juli, 2012 19:08 ×

gua gak ngerti sama logika "jaga hubungan baek". 21 sebagai bioskop yang sangat dominan di Indonesia harusnya bisa jadi lokomotif perfilman nasional. kalo 21 bilang, "gua gak mau nerima pelm semi porno!" lha terus si produser bisa bilang apa? pilihannya kan tinggal 2, pelmnya gak bisa diputer di kebanyakan bioskop indonesia ato dia yang harus ubah genre film dia.

gue sih mandangnya bukan pemerintah yang jadi faktor penentu, justru 21 sebagai bioskop dominan di indonesia yang bisa nge-drive.

Reply
avatar
Thanks for your comment