Ketika Cinta Beristighfar

Seminggu yang lalu saya ketemu Oby, ade kelas di kampus yang saya kenal dari jamannya super intensif di NF dulu. Dia baru aja pulang umroh, dan sebagai BackpacKEREN sejati yang senantiasa haus akan cerita2 perjuangan petualangan dan perjalanan, saya langsung todong dia buat ketemu dan cerita2. Selalu excited denger cerita temen yang abis dari perjalanan jauh, bikin saya termotovasi buat jalan2 juga. Dan alhamdulillah kali ini dapet bonus oleh2 pulak, sambil menyelam buang air deh, uhuuy! :D

Dan kamu tau, Sobat Muda? Denger cerita Oby bikin saya terkenang pengalaman umroh juga tahun 2007 lalu. Semuanya teringat dengan jelas, seolah baru lima tahun yang lalu saya kesana (err, emang lima tahun bukan?). 

Pergi ke Baitullah dan jadi tamunya Allah pasti selalu dicita2in setiap muslim (yang beriman, if I may add :D). Makanya bisa pergi ke Tanah Suci itu rezeki banget buat saya. Pada awalnya yang harusnya berangkat mama sama ayah doang. Tapi di last minutes ayah dapet kabar harus ke Cina di hari terakhir kepulangan mereka dari Tanah Suci. Sempet kepengen diundur atau dibatalin aja, tapi mengingat resiko di-pundungin mama berarti serumah makan sayur gak pake garem selama sebulan ke depan, ya akhirnya posisinya dikasih ke saya.

Dan dengan segala kerendahan hati, enggak ada maksud sama sekali buat sotoy, songong atau sombong karena saya udah berkesempatan pergi ke tanah suci sedangkan kamu yang baca ini belom, Sobat. Jauh di lubuk ati yang paling mentok saya selalu mendoakan semoga kamu semua berkesempatan jadi tamunya Allah juga koq. Amiiin. Lagian kan daripada songong mendingan kita singing a song. Betul?? (nanya ala Zainuddin MZ)

Ngeniwei... Dari baca2 terjemahan Al Quran (yang mana semakin jarang, harus diakui), di surah Al Hajj ayat 27 Allah berfirman: 

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus* yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”
        
*) Ada yang menafsirkan kalo unta yang kurus itu artinya para jamaah haji dateng ke Baitullah dengan menempuh jarak yang jauh dan perjalanan yang sulit. Sampe-sampe onta yang mereka naekin kurus kering begitu sampe tempat tujuan.
 
Harap maklum Sobat Muda, karena ayat ini turun di zaman Rasulullah idup 14 abad yg silam, maka kendaraan paling canggih yang bisa digambarkan ya onta, boro2 Airbush A300 atau Boeing 737. Tapi sekedar tambahan, naek pesawat 9 jam dengan perbedaan waktu di tempat tujuan 4 jam lebih lambat juga bikin cape’ mental lho.
Soalnya gara-gara menempuh perjalanan dengan kecepatan 990 km/jam sambil ngelawan arah rotasi bumi jelas bikin waktu di dalem kabin pesawat serasa berjalan lambat bgt. 

Baru kali itu saya ngerasain jetlag, kesemutan, dan  bosen tingkat tinggi jadi satu. Belom lagi laper berat gara-gara lupa sarapan. Makan siang ‘n makan malem di pesawat sama sekali nggak bisa diharapkan dari segi porsi, khususnya bagi saya yang berprinsip "quantity over quality".

Makanya setelah mendarat dan dalam perjalanan menuju madinah, saya langsung beli kebab dengan beringas. Berhubung saat itu di tanah aer juga belum populer kebab baba rafi, dan belum pernah coba kebab shafa yg gedenya amit2, saya cuma ngebatin “Rasa kebab di arab laen yah. Kaya ada seratnya gt. Pake daging onta apa ya?” 

Padahal rasa kebab yang ajaib itu bukan pengaruh dari daging atau bahan-bahan di dalemnya, tapi gara-gara kertas pembungkusnya sedikit saya telen. DANGG!!! Terbukti dari bekas robekan  berbentuk gigitan di ujung kertas.

Pesen moral: Liat apa yang dapat terjadi kalo rasa lapar mengalahkan akal sehat. Pantesan di Indonesia banyak kriminalitas ya? Maka, WASPADALAH… WASPADALAH…!!

Setelah beberapa hari di Madinah, rombongan kami berangkat menuju Makkah dengan sebelumnya mengambil Miqot di Bier 'Ali. Miqot ini dimaksudkan sebagai niat untuk menjalankan umroh, dan memang hanya bisa dilakukan di tempat2 tertentu aja. Dan dengan berniat di tempat miqot ini secara resmi ibadah umroh dimulai, ditandai dengan memakai ihram.

Bahan ihram yang saya pakai ini mirip handuk, jadi tebal dan nyaman. Saya pun diajarin untuk melipatnya dengan lipatan khusus supaya nggak kedodoran. Sampai kedodoran bisa panjang urusan, soalnya buat jamaah cowok ihram adalah pertahanan terakhir dan satu2nya supaya *ehm* si ade kecil gak masuk angin.. :P

Nah, bagian ini sempat bikin saya risih. Selama di Madinah dan di pelataran Masjid sebelum berihram saya banyak liat mbak2 arab bermata bening (yang saya tebak gak jauh umurnya dari saya) memakai cadar. Dengan usilnya saya ngebatin "Ngapain sih pake cadar, kek cakep aja ditutup2in?" Yang mana setelah mereka niat berumroh dan harus lepas cadar aslinya cakep bener aja lohh, Sooob, itu mbak2!!!

Risih, tapi teteup... gaya :P
Entah faktor genetis atau gimana yang jelas semuanya sama, selain cantik, kalo ngeliatin kita tatapan matanya ngalahin Veny Rose pas ngabarin berita perceraian selebriti, tajam-setajam silet! Ini momen awkward buat saya yang kalo diliatin cewek cakep bisa langsung penggaraman (baca: salting), ditambah gak pake celana dalem khawatirnya si ade kecil ikutan menggeliat gara2 grogi. Setengah mati nahannya! Sampe itu kejadian saya mah minta dirajam aja dah saking malunya... >.<

Ngeliat saya gelisah, Mas Hendry, anggota rombongan termuda selain saya, inisiatif untuk nanya.

"Kenapa, Van?"
"Err... ini, Mas..."
"Kenapa?"
"Saya ngerasa seksi deh pake ihram begini?"
"......?" Ada canggung yang merambat bersama hening setelahnya.

***

Senja semakin temaram ketika kami mendekati kota Mekkah. Saya ingat persis gradasi jingga-biru di langit saat itu indah tak terlukiskan.

Tapi saya justru mulai deg2an, terlebih ketika memasuki pelataran Masjidil Haram. Rasa deg2an yang mungkin timbul karena excitement akan melihat center of universe, titik tempat saya menghadap selama belasan tahun beribadah.

Langit sudah hitam pekat ketika saya berdiri di depan pintu masuk Masjidil Haram, tidak terlihat setitik bintang pun karena polusi cahaya yang ditimbulkan dari Masjidil Haram dan gedung2 di sekitar. Saya menggandeng mama dan beranjak mengikuti rombongan.

Memasuki Masjidil Haram tenggorokan saya kering. Lorong masjid antara pintu masuk dan Ka'bah serasa panjang tanpa ujung, melewatinya saya merasa nggak sampai2. Di kiri kanan lorong terletak berdrum2 air zam2 yang dingin menyegarkan, boleh diminum siapa saja. Tapi boro2 terpikir untuk saya minum dari drum2 itu.

Lalu dari kejauhan saya melihatnya. Kotak hitam yang dari jarak saya berjalan masih sebesar TV 29 inchi. Semakin mendekat dia semakin jelas, dikelilingi ratusan manusia yang tidak putus-putus mengelilinginya

Ketika jarak tinggal 40 meter...

Jantung saya semakin keras berdentam


25 meter...

Pegangan tangan saya ke mama terlepas

8 meter...

I can't even breath!

Sampai. Subhanallah...

Saya menahan kedipan di mata yang mulai berair. Takjub dan haru membuat saya nggak bisa mengontrol kelenjar air mata. Mulai ada kabut yang menghalangi pandangan. Kubus raksasa setinggi 13 meter itu diselimuti kain hitam yang gelap, namun pesonanya menyilaukan saya. Membuat saya termangu dan menolak respons dari sekitar.

Saya baru bereaksi ketika mas Hendry menyentuh lengan saya, mengajak minggir untuk sholat isya dan maghrib berjamaah. Ternyata rombongan sudah bersiap sholat, tinggal saya yang belum bergabung.

Mengikuti Pak Sihabudin yang menjadi imam, saya bertakbir dengan sebenar-benarnya menginsyafi betapa Allah itu Maha Besar. Ketika biasanya takbir saya memandang gambar Ka'bah di sajadah, kali ini saya melihat benda aslinya. Langsung. Dengan mata kepala sendiri. Dalam jarak sepelemparan batu aja.

Pak Sihabudin mulai membaca Al Fatihah dalam sholatnya, pembuka dari semua surah dalam Al Quran, dengan suara lirih. Cukup lirih hingga hati saya yang take over mendengarkannya, nggak lagi telinga.

1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Dan seberapa sering dalam sehari lo sebut nama-Nya, Van?

2. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam

Memuji-Nya? Boro2...

3. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

You know that for exactly, don't you?

4. Pemilik hari pembalasan

That's the day you'll be counted!

5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Yakin cuma kepada-Nya??

6. Tunjukilah kami jalan yang lurus

Setelah ditunjukin? Dijalanin gak?

7. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan jalan yang dimurkai, bukan pula jalan mereka yang sesat

...

Saya sholat dengan hati penuh lebam dan muka yang sembab oleh air mata.

Dulu saya bertekad untuk pergi ke Tanah Suci dengan uang saya sendiri, supaya effort yang besar bikin makin berkesan ketika menjadi tamu Allah. Tapi ternyata dengan cara apapun kita kesana akan selalu mengesankan. Kadar iman yang lebih fluktuatif daripada indeks saham gabungan BEJ bikin Allah sepertinya perlu mendekatkan saya dengan-Nya. Seolah pengen ditunjukin kalo itu adalah bukti cinta Allah buat saya.

Selesai sholat, kami melanjutkan prosesi Umroh sampai selesai. Karena Umroh (dan Haji) adalah ibadah fisik, seandainya nggak inget semua doanya pun gak masalah, yang penting semua prosesinya mulai Thawaf, Sa'i, sampai Tahalul dilaksanakan.

Alhamdulillah... Lega ketika akhirnya kami selesai Umroh. Tapi tunggu...! Kemana nih sendal2 kami yang ditaruh deket tempat sholat tadi?? Kok gak ada!! Total jendral ada dua puluhan pasang sendal yang ditaruh di bawah salah satu drum air zam-zam, dan sekarang semuanya raib! Kami serombongan berpandang2an bingung sebelum akhirnya ada yang nyeletuk

"Bahkan ya, di masjid sekaliber Masjidil Haram aja sendal bisa ilang..." Semua tertawa, termasuk saya, meskipun getir.

Tapi saya kemudian ngebatin, adakalanya cinta itu butuh bukti, or further than that, pengorbanan. Kalo setelah atas kuasa-Nya saya bisa sampe sini dan ngorbanin sendal doang aja gak ikhlas jangan ngaku cinta sama Allah deh, hehehehe.

Maka diantara rasa syukur atas cinta-Nya yang membuncah, saya beristighfar.

Astaghfirullah...



Bersambung... ke Ketika Cinta Beristighfar - Reloaded

Previous
Next Post »

9 comments

Click here for comments
28 Mei, 2012 22:32 ×

antara lucuuu, buat irii, dan menarikkk..:D mudah2an gw bisa juga pergi ke tanah sucii *bukan niatbackpackerann pastinya..:)

Reply
avatar
28 Mei, 2012 22:58 ×

Van, itu sendal kayaknya nggak ilang deh, tapi emg langsung diamankan kalau ditaro sembarangan. Kalau mau diambil lagi kayaknya bisa deh (asal kuat aja nyarinya di bagian lost & found)

Reply
avatar
29 Mei, 2012 17:05 ×

ka maksudnya Feni Rose kali :p
#gakpenting

semoga bisa nyusul kesana! Aamiin :D

Reply
avatar
dhay
admin
29 Mei, 2012 20:52 ×

jadi merasa seksi ya pake ihram? aaaaaa~

Reply
avatar
irvan
admin
30 Mei, 2012 11:13 ×

Amiin... Eh, Bang Fahmi pernah cita2 haji atau umroh sambil backpacking lho, pake jalur darat. Kenapa nggak?? :D

Reply
avatar
irvan
admin
30 Mei, 2012 11:15 ×

Ilang sob, kita taro di bawah drum itu karena rak di sebelahnya penuh. Udah gitu dicari2 ke tempat yg biasanya naro barang ilang gak ada juga. Yasudahlah.. :D

Reply
avatar
irvan
admin
30 Mei, 2012 11:17 ×

Atau fira rose? Secara soal gosip sama apdetnya, hihihi...

Aminaminamin :)

Reply
avatar
irvan
admin
30 Mei, 2012 11:22 ×

lebih merasa seksi kalo pake bikini sih #loh #soundswrong :))

Reply
avatar
11 Juni, 2012 16:42 ×

kak irv,kan gw ilang tas nih pas lagi solat. waktu solat kepikiran sih sama tas yang takut ilang,tapi tetep lanjutin solatnya.mungkin bukti kecintaan bela2in lanjutin solat juga harus dibuktikan sama ikhlas ilang tas kali ya.hehe

Reply
avatar
Thanks for your comment