Menjadi Eksklusif

Hari masih cukup pagi ketika saya menginjakan kaki di Pantai Pasir Putih, Kalianda, Lampung. Setelah sebelumnya menghabiskan 6 jam perjalanan darat & laut, menikmati udara segar pantai menghilangkan segala penat yang terkumpul setelah menempuh rute Tanjung Priok - Merak - Bakaheuni - Kalianda. Untuk sampai Lampung saya menumpang mobil Bang Ryan, sepupunya @wenipebriani yang kebetulan mau ke Palembang.

Kenapa mendadak saya ke Lampung? Sebetulnya nggak bisa dibilang mendadak juga. Udah dari lama saya kepengen banget jalan2 menjelajahi satu per satu pulau yang ada di Indonesia. Maka setiap tiga bulan sekali saya merencanakan BackpacKEREN Trip untuk jalan2 sekalian refreshing. Setelah bulan Juni lalu mengkhatamkan Sulawesi, dan September kemarin mengunjungi Solo & Jogja, kali ini Sumatra jadi target operation saya :)

Dan perjalanan yang saya rencanakan sejak pertengahan November itu terealisasi dua minggu yang lalu. Mulai tanggal 16 Desember kemarin saya backpacking Lampung - Palembang - Padang selama seminggu. Sayang sih, karena target awal pengen banget sampe Medan atau Aceh, tapi apa daya waktu cuti terbatas, lebih lama dari itu saya resmi jadi buronan produser, hehehe.


Di Pantai Pasir Putih yang jadi pemberhentian awal saya main2 sebentar. Sekalian menghabiskan waktu sampai siang, sambil menunggu janji ketemu dengan teman lama. Pantai ini relatif mudah dan murah untuk di kunjungi, karena terletak di pinggir jalan Trans Sumatra. Berjarak kurang lebih 29 km dari Bandar Lampung, Pantai Pasir Putih bisa dicapai dengan angkot atau bis dari pelabuhan Bakaheuni maupun dari kota Bandar Lampung.

Di seberang Pantai Pasir Putih, ada objek wisata alam, yaitu Pulau Condong. Dari tepi pantai, memandang Pulau Condong di kejauhan seperti melihat dari view finder kamera yang white balance-nya diset dibawah 3000K, semuanya terlihat biru. Permukaan laut yang minus ombak besar terlihat biru bergradasi tergantung kedalamannya, pun langit yang datar dengan sedikit awan menampilkan warna biru yang lebih muda, hasil pantulan gelombang sinar yang paling pendek dari ketujuh spektrum mejikuhibiniu. Bahkan Pulau Condong yang mirip bukit tumbuh di atas laut terlihat biru alih-alih hijau, efek kabut tipis sisa semalam.

Menuju Pulau Condong
Dari Pak Romli, nelayan yang biasa menyewakan perahunya untuk menyebrang ke Pulau Condong, saya tahu kalau hari itu anak-anak sekolah di Lampung sedang bagi raport. Karenanya sampai agak siang pantai masih sepi dan saya belum ada teman untuk menyebrang ke pulau. Setelah tawar-menawar sedikit, disepakati kalau Pak Romli mau mengantar saya ke seberang dengan harga Rp 40.000. Dua kali lipat lebih mahal dari harga biasanya karena saya sendiri di perahu, tanpa penumpang lain.

Di jaman ketika orang masih saling sapa dengan panggilan 'kisanak', jarak ke pulau Condong bisa diistilahkan hanya sepeminuman teh. Dan saat di perahu itu saya nggak bisa berhenti cengengesan, karena merasa seolah jadi pemilik kapal dan pulaunya, soalnya saya pengunjung pertama.


Di Pulau Condong ada gua yang menembus ke sisi lain pulau dan terbentuk secara alami. Seru buat yang mau sok2 berpetualang sambil berkhayal ala Indiana Jones. Tapi daya tarik utama pulau tetap pantai dan permainan airnya. Bisa berenang, snorkeling, atau canoing. Hanya saja harus hati2, karena tidak jauh dari Pulau Condong ada pulau pribadi milik pengusaha papan atas di Indonesia, berinisial TW. Salah2 para penjaganya bisa melepaskan tembakan kalau kita terlalu dekat pulau itu. Bahkan berdasarkan cerita pernah ada beberapa anak muda main kano dan dayungnya diambil, karena mereka terlalu dekat dengan pulau. Walhasil mereka harus mendayung pakai tangan untuk balik. Ngebayanginnya aja udah pegel... >.<

Setelah puas mengitari pulau Condong (berniat mendaki juga, tapi apa daya napas menjelang uzur. Gak kuat! :D) saya berleyeh-leyeh di tepi pantai sambil membaca majalah dan memandang lautan. Hanya ada saya, dan satu keluarga kecil yang bermain air agak jauh di sebelah sana. Setengah jam berlalu, saya membatin: begini seharusnya liburan! :)

Memang selalu menyenangkan menjadi bagian dari sesuatu yang eksklusif. Menurut saya sih pada dasarnya setiap orang suka memiliki privasi, privilage, dan akses kepada sesuatu yang tidak bisa didapat semua orang. Menjadi pribadi yang inklusif (dan kadang ditambah progresif) biasanya cuma jadi jargon yang dikoar2kan ketika pemilihan Presiden Mahasiswa :D


Soalnya bagi orang2 yg harus menghabiskan kesehariannya di kota besar, seperti saya, memiliki privilage atau sekedar privasi menjadi semacam kemewahan. Karena harus berbagi kepentingan dengan banyak orang di area yang selebar daun kelor. Sayangnya suasana damai di Pulau Condong nggak sempat diabadikan karena batre HP yang nyaris habis. Tapi suasana eksklusifnya memang nggak untuk dibagi sih, hehehehe.


Pulau Tangkil
Hal yang sama saya rasakan keesokan harinya. Bareng Nad2, ade kelas di kampus sekaligus partner in crime buat urusan per-backpacking-an, saya main ke Pantai Mutun yang berlokasi nggak terlalu jauh dari pusat kota Bandar Lampung, sekitar 45 menit bermotor. Dari pantai Mutun saya menyebrang ke pulau Tangkil. Di sana setelah merasa gagal mengajari Nad2 berenang, saya menyewa kano dan mengitari pulau. Di satu lokasi persis di sisi seberang saya start berkano kembali saya merasakan citarasa eksklusif (udah kaya iklan rokok :D), karena pemandangannya yang breathtaking dan momennya seolah diciptakan Tuhan untuk saya menikmati hidup. 


Lautan di depan dengan gugusan beberapa atol, mega yang bergerak pelan menghiasi langit biru sempurna, dan (nah ini nih!) terumbu karang cantik beraneka rupa persis di bawah saya! Dengan kedalaman yang tidak lebih dari dua meter, dan jarak pandang yang jernih, sampai saya bisa lihat dengan jelas terumbu karang di dasar.

Saya dan Nad2 sampe sengaja berhenti & menikmati pesona bawah laut itu sesaat sambil leyeh-leyeh. Jelas bukan pemandangan yang bisa setiap hari dilihat, karenanya wajib dinikmati.

Pulang2 gosong :D

Pada akhirnya saya merasa cuti & backpacking mengunjungi Lampung adalah keputusan tepat. Setelah dua minggu uring2an dan kinerja di kantor drastis menurun, menikmati kesendirian dan menjadi bagian dari eksklusifitas memang mutlak saya perlukan.

Karena seringkali masalah terasa berat bukan karena bobot masalahnya, tapi SEKEDAR terlalu lama kita memikulnya. Maka solusinya sederhana: letakan sejenak, dan nikmati hidup! :)

Previous
Next Post »

6 comments

Click here for comments
31 Desember, 2011 21:45 ×

welcome to sumatra bang..
happy new year 2012

Reply
avatar
rae arani
admin
01 Januari, 2012 20:07 ×

sebut aja namanya. Tomi Winata. =P

Reply
avatar
Ghessty
admin
02 Januari, 2012 11:31 ×

yang Padang mana kak?penasaran

Reply
avatar
03 Januari, 2012 15:54 ×

@Tito : Happy New Year To, lo orang sumatra kah?? :)

@rae : sama2 tau lah, Sob... :D

@ghessty : Belom, nanti lah, di episode selanjutnya :P

Reply
avatar
05 Januari, 2012 23:40 ×

Kayak bukan elo yg nulis pan. Berasa aneh aja ngebacanya...
This is not your writing style. Atau emang udah ganti?

Reply
avatar
06 Januari, 2012 00:13 ×

Iya, udah ganti. Bukannya justru aneh kalo begitu2 aja, gak berkembang dong berarti...

Reply
avatar
Thanks for your comment